Sekadau Mist

 MAKAM PAHA DEMANG KUNIN


         Makam ini terletak diantara Lawang Siti dan Dusun Seladan dalam sungai Sekadau, jika menggunakan kendaraan roda dua dapat dilewati melalui Jalan Sintang Km 4 masuk ke lokasi kurang lebih dua Km. Sudah tidak asing lagi sebagian masyarakat Sekadau yang namanya “MAKAM PAHA DEMANG KUNIN” menurut cerita yang kami himpun dari tetua/sesepuh yang dapat dipercaya. Bahwa makam yang usianya ratusan tahun ini hanya terbuat dari batu biasa, setelah di ilhami melalui mimpi beberapa orang, ternyata itu adalah Kuburan Paha Inik Kamonink.Makam tersebut panjangnya 3 meter lebih. Untuk melestarikan bukti sejarah tersebut, maka kurang lebih 15 tahun yang lalu direnovasi kembali oleh penduduk Desa Mungguk “Hasan Dego” dengan menggunakan semen. Pada zaman dahulu, makam ini sering dikunjungi oleh orang-orang yang mempunyai maksud tertentu, dan tak sedikit temuan-temuan ganjil/aneh sebagai cerita pribadi orang yang apabila kebetulan melewati makam ini dimalam hari terutama melewati jalur sungai, karena letaknya tidak jauh dari pantai sungai Sekadau.

RUMAH PANJANG SUNGAI ANTU


       Kurang lebih 15 km dari Balai Sepuak Kecamatan Belitang Hulu Kabupaten Sekadau, terdapatlah sebuah rumah panjang yang terletak di Dusun Sanke Desa sungai antu Hulu. Bangunan motif suku Mualang ini, sangat asyik dan menarik jika disimak secara mendetail, makna yang terkandung dibalik simbol, motif, aksesoris dan khas bangunan yang menjulang ke atas mempunyai ketinggian tiang rumah beberapa meter diatas tanah, ini merupakan bangunan peninggalan satu-satunya di Kecamatan Belitang Hulu.
TENGKORAK MANUSIA



         Tenggorak manusia ini adalah peninggalan Suku Dayak Punan, terdapat di Dusun Sulang Botong Desa Sungai Sambang, Kecamatan Sekadau Hulu ( Rawak ) kurang lebih 27 Km dari Ibu Kota Kabupaten Sekadau. Dikisahkan pada zaman dahulu, konsistennya setiap suku untuk mempertahankan adat istiadatnya cukup kuat, berlakunya bervariatif sesuai dengan situasi dan kondisi daerah atau suku yang bersangkutan, terutama istilah ngayau pada waktu itu sangat populer. Hal itu dilakukan selain untuk mempertahankan daerah kekuasaannya, sistem adat yang kuat dan mengikat juga untuk dijadikan sebagai tanda keperkasaan pria dimata seorang wanita yang ditandai dengan membawa kepala manusia sebagai bukti.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar