SUMBER AIR PANAS

Di Kecamatan Belitang Hulu Balai Sepuak, tepatnya di Desa Seburuk. Ternyata menyimpan aset wisata yang tak ternilai harganya, yaitu Sumber Air Panas Bumi. Air ini mengebul dan mengalir sepanjang masa dari perut bumi hingga sekarang. Panas air ini cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk merebus telur jika kita rendamkan di dalamnya beberapa saat. Konon ceritanya menurut kepercayaan masyarakat setempat, apabila kita mandi di sana, air tersebut dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit kulit, objek ini sangat menakjubkan. Jarak tempuh antara Balai Sepuak dan Desa Seburuk kurang lebih 10 km. Jarak ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua sampai ke Desa Seburuk, kemudian berjalan kaki hanya 45 menit sampailah ke lokasi Air Panas tersebut.
RIAM SEGIAM

Lokasi Riam Segiam dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dan jalur sungai, yang terletak di perairan sungai Sekadau 25 Km dari ibu Kota Kabupaten Sekadau, 5 km dari Rawak (Sekadau Hulu) Lokasi tersebut jika dihitung dari Kecamatan Nanga Mahap kurang lebih 52 Km dan sangat cocok sekali untuk kegiatan olah raga ARUNG JERAM, objek tersebut mempunyai arus air cukup deras apalagi dimusim kemarau.
BATU BERTULIS

Batu bertulis adalah Obyek Daya Tarik Wisata, yang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Hindu di tanah air. Batu bertulis yang dimaksud ini terdapat di sungai Tekaret anak sungai Mahap, dari pinggir sungai kurang lebih 30 M dekat Kampung Pait Kecamatan Nanga Mahap 18 km dari ibu kota kecamatan ke lokasi, dan 59,85 km dari ibu kota kabupaten ke kecamatan nanga mahap.
Tinggi sebelah kiri batu tersebut 2 M. Sebelah kanan 3,90 M. Lebar 5,10 M. Batu ini juga pernah diteliti oleh tim Puslitar dari Jakarta tahun 1982, memperkirakan batu tersebut ada sejak tahun 650 pada abad ke 7 Masehi pada masa akhir Hindu dan awal Budha sedangkan tulisan tersebut menggunakan huruf Pallawa bahasa yang digunakan Sankskerta.
Hingga kini makna, dan arti tulisan yang terdapat di batu tersebut belum dapat diterjemahkan.
Tinggi sebelah kiri batu tersebut 2 M. Sebelah kanan 3,90 M. Lebar 5,10 M. Batu ini juga pernah diteliti oleh tim Puslitar dari Jakarta tahun 1982, memperkirakan batu tersebut ada sejak tahun 650 pada abad ke 7 Masehi pada masa akhir Hindu dan awal Budha sedangkan tulisan tersebut menggunakan huruf Pallawa bahasa yang digunakan Sankskerta.
Hingga kini makna, dan arti tulisan yang terdapat di batu tersebut belum dapat diterjemahkan.
TIANG SANONIK
Di zaman dahulu tepatnya di desa Seraras, kurang lebih 15 Km ke arah timur dari ibu kota Kabupaten Sekadau, masih terdapat bukti peninggalan sejarah yang otentik. Yang berarti adanya bukti kejayaan suatu daerah dimasa itu, Tiang Sanonk namanya.Fungsi Tiang Sanonk dikala itu adalah untuk menggantungkan kepala manusia dari hasil usaha mereka membunuh orang lain yang dianggap dapat merugikan, atau ancaman bagi kampung halaman mereka.
Suku yang menempati daerah tersebut adalah suku Ketungau. Suku ini mempunyai kepercayaan turun temurun yaitu belum mengenal adanya Tuhan ( Animisme ). Mereka sangat percaya
dengan adanya benda-benda yang bersifat mistik.
Diwaktu-waktu tertentu mereka selalu menyembah mpaguk
(Patung Kayu) yang dibuat menyerupai manusia, atau kayu besar yang dianggap mereka mempunyai roh.
Tiang Sanonk merupakan tiang yang dianggap keramat , setiap adanya gawai atau hari besar. Para tetua dan sesepuh adat selalu menyembah dan memberikan sesajen/persembahan pada tiang tersebut.
Dari hari ke hari waktu terus berjalan, datanglah bangsa Belanda dan Inggris dengan membawa kepercayaan baru yaitu agama Nasrani.
Tidak lama kemudian datang lagi bangsa Turki, Arab dan Banjar, juga membawa kepercayaan mereka yaitu agama Islam.
Besarnya pengajaran yang diberikan oleh agama Islam pendatang ini, berangsur-angsur mereka terangkul, dan mengikuti ajaran Islam.Dengan adanya agama tersebut, membuat mereka melupakan kebiasaan yang sudah dianutnya turun temurun berangsur-angsur sirna. Mereka tidak lagi memberikan persembahan, dan tidak lagi menyembah berhala (Mpaguk), atau yang bersifat mistik. Juga tidak lagi datang ke tiang sanonk yang dulunya mereka anggap keramat. Mpaguk di Nanga Madam dan Tiang Sanonk hingga kini masih berdiri tegak hanya sudah tidak terawat lagi.






0 komentar:
Posting Komentar