AIR TERJUN SIRIN PUNTI
Air Terjun Sirin Punti terletak di Hulu Sungai Taman Kampung Sangke Dusun Kelampuk Desa Meragun Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau.Jarak dari Ibu Kota Kecamatan Nanga Taman ke lokasi, kurang lebih 12 km dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda empat hanya sampai di ibu kota Kecamatan, jika menuju ke lokasi dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua ( Sepeda Motor ).
Air Terjun Sirin Punti
perahu diperintahkan untuk mengambil buluh (Bambu) ke atas, sekembalinya dari atas ternyata yang memegang bambu tersebut hanya kedengaran suaranya tapi tak nampak badannya, Pangeran Agong penasaran, beliau juga ingin memegang bambu tersebut, kejadian juga sama dengan yang dialami oleh sahabatnya.
Beliau lalu pulang dan berkata pada anak istri dan kaum kerabat yang setia menjadi pengikutnya, beliau bersabda.
Wahai … hulu balang yang setia kepadaku, berkumpullah dihadapanku. Bagaimana andai kata kita pindah dari kerajaan ini ! …. Jawab rakyat kami setuju, kami setia menjadi pengikutmu, wahai baginda raja.
Seketika itu pula mereka pergi beramai-ramai ke seberang, membangun pemukiman baru di seberang kapuas, tepatnya didaerah Lawang Kuari.
Setelah kerajaan jadi, dihilir kerajaan terdapat suku daya’ dihulu kerajaan terdapat suku Cina, ditengah-tengah kerajaan ( Balai Raja ) yaitu Keraton Pangeran Agong. Kemudian kerajaan tersebut ditabur di sekelilingnya abu gelap yang terdapat di dalam buluh tadi dan menghilang ( Batang Panjang Menghilang ).
Hanya yang nampak gua-gua belaka hingga sekarang.
Lawang Kuari sekarang menjadi objek daya tarik wisata ( ODTW ) di Kabupaten Sekadau.
KULIT PADI
Buah padi biasa, sekarang dengan mudah kita jumpai apalagi untuk melihat dan mendapatkannya. Tetapi buah padi yang diameter 29 cm, dan panjangnya kurang lebih 16 cm, hanya ada di kota Sekadau ini.Karena bentuknya unik dan menarik, sangat perlu untuk disimak dan dikaji. Buah padi ini sudah tidak berisi lagi jadi tinggal kulitnya saja. Menurut sebagian masyarakat jalan Tamtama Desa Sungai Ringin, keberadaan padi tersebut usianya memang sudah cukup tua
Dikisahkan oleh masyarakat setempat, di zaman orang besar / Inik Kamonink (lebar dadanya tujuh asta), kurang lebih ratusan tahun yang lalu. Padi merupakan makanan pokok seperti layaknya kita sekarang.
Karena usianya sudah cukup lama, maka ada yang meyakini ( ditahyuli ) setiap ada musim tanam padi, kulit padi tersebut dikikis dan ditaburkan pada lahan (huma) yang akan ditanami padi, dengan harapan usahanya akan terhindar dari hama dan mendapat berkah dan safa’at, karena zaman sudah maju sekarang sudah tidak dilakukan lagi.
Sebenarnya padi ini utuh, karena banyak keluarga yang turun temurun ( pusaka), padi tersebut dibagi dua. Separuh ada di Sekadau, yang separuhnya lagi ada tersimpan pada kerabat turunannya di Landau Kodah seberang kapuas.
Dikisahkan oleh masyarakat setempat, di zaman orang besar / Inik Kamonink (lebar dadanya tujuh asta), kurang lebih ratusan tahun yang lalu. Padi merupakan makanan pokok seperti layaknya kita sekarang.
Karena usianya sudah cukup lama, maka ada yang meyakini ( ditahyuli ) setiap ada musim tanam padi, kulit padi tersebut dikikis dan ditaburkan pada lahan (huma) yang akan ditanami padi, dengan harapan usahanya akan terhindar dari hama dan mendapat berkah dan safa’at, karena zaman sudah maju sekarang sudah tidak dilakukan lagi.
Sebenarnya padi ini utuh, karena banyak keluarga yang turun temurun ( pusaka), padi tersebut dibagi dua. Separuh ada di Sekadau, yang separuhnya lagi ada tersimpan pada kerabat turunannya di Landau Kodah seberang kapuas.






0 komentar:
Posting Komentar